SEO adalah optimasi konten agar mendapat peringkat tinggi di hasil pencarian Google, fokusnya pada keyword, backlink, dan klik. GEO (Generative Engine Optimization) adalah optimasi brand dan konten agar dikutip sebagai sumber jawaban oleh AI generatif seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview, fokusnya pada entity, authority, dan citation. Ketika Google menyebut “GEO masih SEO”, pernyataan ini layak diuji: apakah keduanya benar-benar satu disiplin, atau Google punya alasan strategis untuk mengatakannya demikian?
Perdebatan GEO vs SEO mulai muncul setelah Google menyebut bahwa Generative Engine Optimization (GEO) masih bagian dari SEO tradisional. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan AI Search dan visibility brand di era AI Overview. Jadi saya mulai menelusuri.
Apa yang saya temukan bukan sekadar perbedaan pendapat soal terminologi. Yang saya temukan adalah anatomi dari sebuah strategi. Strategi yang sangat masuk akal jika Anda adalah perusahaan yang sedang menghadapi ancaman terbesar dalam 25 tahun sejarah Anda.
Perusahaan yang Tidak Pernah Kalah, Belajar Menulis Ulang Definisi
Untuk memahami mengapa pernyataan itu penting, Anda perlu memahami apa yang sedang terjadi dengan Google sebelum pernyataan itu keluar.
Pada awal 2025, untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade, market share global Google turun di bawah 90%. Sebuah angka yang tidak pernah tersentuh sejak 2015. Ini bukan spekulasi: data ini dikonfirmasi oleh StatCounter, firma analitik independen yang memonitor distribusi search engine secara global setiap bulan dan dilaporkan oleh Fast Company pada Oktober 2025.
Bukan karena orang berhenti mencari. Tapi karena sebagian dari mereka mulai mencari di tempat yang berbeda.
OpenAI melaporkan dan dikonfirmasi oleh TechCrunch, bahwa ChatGPT tumbuh dari 400 juta menjadi 800 juta weekly active users hanya dalam beberapa bulan di 2025, dengan lebih dari 1 miliar query diproses setiap hari.
Geoptie, dalam laporan yang mengutip data pertumbuhan platform, mencatat bahwa Perplexity AI memproses 780 juta query pada Mei 2025 saja. Naik 239% dari 230 juta query pada Agustus 2024.
Gartner yang meruapakan firma riset teknologi independen, sudah memperingatkan ini sejak Februari 2024 dalam press release resmi mereka: volume traditional search akan turun 25% di 2026.
Alan Antin, Vice President Analyst di Gartner, menyebut platform AI baru ini bukan sebagai pelengkap Google, tapi sebagai “substitute answer engines” atau mesin jawaban pengganti, menggantikan query yang sebelumnya dieksekusi di traditional search engines.
Ini adalah konteks yang hilang ketika Anda membaca pernyataan Google tadi.
Perusahaan yang selama dua dekade menjadi satu-satunya pintu gerbang informasi dunia, tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa ada pintu gerbang lain yang sedang dibangun dan mereka tidak memilikinya.
Dalam situasi seperti ini, ada dua pilihan yang bisa diambil oleh sebuah incumbent: berinovasi, atau mendefinisikan ulang permainan agar posisi mereka tetap sentral.
Google memilih keduanya tapi yang paling mudah dilakukan lebih dulu adalah yang kedua.
Dengan mengatakan “GEO is still SEO,” Google tidak sedang menjelaskan ilmu kepada Anda. Mereka sedang memastikan bahwa seluruh industri SEO merupakan ekosistem yang mengorbit di sekitar mereka selama 25 tahun dan tidak punya alasan untuk berpindah arah. Mereka sedang memastikan bahwa ketika Anda memikirkan “optimasi untuk AI search,” nama yang pertama muncul di kepala Anda tetap Google.
Mengapa Google Menyebut GEO Masih Bagian dari SEO?
Saya bekerja di lingkungan yang dituntut menyusun pernyataan resmi agar bisa didengar dan dipercaya jutaan orang dengan cara tertentu. Ketika membaca kalimat Google itu, saya tidak membacanya sebagai definisi teknis. Saya membacanya sebagai sebuah pernyataan yang dirancang untuk menggiring, bukan menjelaskan.
Dan saya tahu persis ke mana harus pergi ketika sebuah pernyataan perlu diuji. Bukan ke pernyataan lain. Melainkan ke riset, dimana satu-satunya ruang yang tidak bisa diintervensi oleh kepentingan siapapun.
Pada 2023, sebelum pernyataan Google itu ada, sekelompok peneliti dari Princeton University mempublikasikan sesuatu yang jauh lebih dingin dan lebih jujur: sebuah paper akademis berjudul “GEO: Generative Engine Optimization,” yang dapat diakses secara publik di arXiv dengan nomor dokumen 2311.09735.
Paper ini kemudian dipresentasikan di KDD 2024 the 30th ACM SIGKDD Conference on Knowledge Discovery and Data Mining dan tercatat dalam prosiding resmi ACM Digital Library, salah satu forum riset paling dihormati di bidang knowledge discovery dan data mining global.
Temuan mereka tidak ambigu: teknik SEO tradisional termasuk keyword stuffing yang menjadi fondasi optimasi Google selama bertahun-tahun tidak bekerja dalam konteks generative search. Yang bekerja adalah pendekatan yang secara fundamental berbeda: statistics addition, quotation from credible sources, authoritative tone. Bukan optimasi untuk crawler. Tapi optimasi untuk sistem yang memahami konten, bukan sekadar mengindeksnya.
Penelitian dari University of Toronto, dalam paper yang dipublikasikan di arXiv pada 2025 dengan judul “Generative Engine Optimization: How to Dominate AI Search”, mempertegas ini dengan cara yang lebih telak: website yang sangat dioptimasi untuk Google Search tidak otomatis terlihat di ChatGPT, Perplexity, atau Gemini.
Paper ini secara eksplisit menyatakan bahwa belum ada studi yang dipublikasikan mengenai apakah teknik SEO tradisional relevan dan efektif untuk hasil AI search dan temuan mereka menunjukkan bahwa dua sistem ini bekerja dengan logika yang berbeda.
Ini bukan opini. Ini adalah hasil eksperimen yang bisa direplikasi, oleh institusi yang tidak punya kepentingan finansial terhadap jawaban apapun.
Sementara Google berkata “still SEO”, komunitas riset akademis sudah menyimpulkan sebaliknya. Bahwa kita sedang berhadapan dengan dua disiplin yang berbeda, dengan metrik yang berbeda, dengan logika yang berbeda.
Literatur akademis bahkan sudah punya kalimatnya sendiri, yang dikutip dalam kajian yang dipublikasikan di Medium’s Design Bootcamp pada 2025: “SEO is about getting found. GEO is about getting featured.”
Perbedaan antara ditemukan dan dipilih sebagai jawaban adalah perbedaan yang cukup fundamental untuk tidak bisa diabaikan dengan satu kalimat positioning dari perusahaan yang berkepentingan terhadap jawabannya.
Angka yang Disembunyikan di Balik Dashboard Anda
Di sinilah investigasi ini menemukan sesuatu yang paling mengganggu.
Google mendefinisikan GEO sebagai bagian dari SEO. Dan secara bersamaan entah disengaja atau sebagai konsekuensi arsitektur sistem mereka, Google menyembunyikan seluruh traffic AI mereka di bawah kategori yang sama di analytics Anda.
Setiap klik yang datang dari AI Overview. Setiap klik dari AI Mode. Semuanya masuk sebagai “organic search” di GA4, Anda tidak bisa membedakan dari klik biasa yang datang dari blue links tradisional. Ini dikonfirmasi oleh Goodie dalam laporan AI Search Market Share mereka yang dirilis Oktober 2025.
Laporan yang sama mencatat sesuatu yang mengejutkan: 89% dari seluruh AI referral traffic saat ini justru datang dari ChatGPT bukan dari Google AI. Bukan karena Google AI lebih kecil. TechCrunch melaporkan bahwa Google AI Overviews kini menjangkau 2 miliar pengguna per bulan di 200 negara, dan AI Mode sudah melampaui 100 juta pengguna hanya dalam beberapa bulan setelah rollout lebih luas di 2025.
Tapi Google AI tidak muncul di referral logs Anda. Mereka terkubur di bawah label “organic search”, kategori yang sama yang sudah Anda monitor selama bertahun-tahun dengan angka yang terlihat normal, stabil, familiar.
Efeknya satu: Anda tidak melihat perpindahan yang sedang terjadi. Karena dashboard Anda tidak dirancang untuk menampilkannya.
Saya tidak menyebut ini sebagai kesengajaan. Tapi saya juga tidak bisa mengabaikan bahwa dua hal ini merupakan framing naratif dan arsitektur data yang bekerja dengan sangat konsisten ke arah yang sama.
Sehingga menghasilkan satu kesimpulan yang menguntungkan Google, bahwa tidak ada yang benar-benar berubah, bahwa Anda masih bermain di lapangan yang sama, bahwa kata “SEO” masih cukup untuk mendeskripsikan apa yang Anda lakukan.
Padahal kenyataannya, lapangan itu sedang diperluas ke arah yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh siapapun, termasuk Google.
Dan perusahaan yang paling tahu ini adalah Google sendiri. Itulah mengapa pernyataan itu ada.
FAQ — GEO vs SEO Menurut Riset dan Data
Apakah GEO benar-benar berbeda dari SEO, atau hanya istilah baru untuk hal yang sama?
Berdasarkan riset Princeton University (2023) dan University of Toronto (2025), GEO dan SEO bekerja dengan logika berbeda. SEO mengandalkan teknik seperti keyword dan backlink untuk crawler, sementara GEO efektif melalui statistics addition, kutipan dari sumber kredibel, dan tone otoritatif. Pendekatan yang dipahami sistem AI generatif, bukan sekadar diindeks.
Mengapa Google menyebut GEO masih bagian dari SEO?
Google menghadapi penurunan market share di bawah 90% pada awal 2025 untuk pertama kalinya sejak 2015, seiring pertumbuhan ChatGPT dan Perplexity sebagai answer engine alternatif. Dengan mendefinisikan GEO sebagai bagian dari SEO, Google memastikan industri tetap mengasosiasikan optimasi AI search dengan ekosistem mereka.
Kenapa traffic dari AI Overview tidak terlihat terpisah di Google Analytics?
Klik dari AI Overview dan AI Mode tercatat sebagai “organic search” di GA4, sama dengan klik dari hasil pencarian tradisional. Akibatnya, brand tidak bisa membedakan traffic mana yang berasal dari AI search dan tidak menyadari perpindahan yang sedang terjadi.
Apakah website yang sudah ranking bagus di Google otomatis terlihat di ChatGPT atau Perplexity?
Tidak. Penelitian University of Toronto (2025) menegaskan bahwa optimasi tinggi untuk Google Search tidak menjamin visibilitas di platform AI generatif, karena kedua sistem menilai konten dengan kriteria yang berbeda.
Apa perbedaan paling sederhana antara SEO dan GEO?
Sesuai kalimat dari kajian Medium’s Design Bootcamp (2025): SEO adalah soal getting found (ditemukan di hasil pencarian), sedangkan GEO adalah soal getting featured (dipilih dan dikutip sebagai jawaban oleh AI).
Artikel Terkait:
- Apa itu GEO (Generative Engine Optimization)? Panduan Lengkap untuk Brand Indonesia
- Perbedaan SEO, AEO, dan GEO — Evolusi Visibilitas Brand di Era AI Search
- Disebut AI, Tapi Tidak Direkomendasikan: Masalah Baru Brand di Era AI Search
Tentang Penulis
Chandra Purnama adalah AI Search Strategist dan Co-Founder Medialab Strategi Nusantara. Ia memimpin transformasi SEO ke GEO untuk Samsung Electronics Indonesia dan menjadi Media & Communications Advisor di DPR RI. Fokusnya: membantu brand Indonesia mendapatkan visibilitas dan sitasi di platform AI seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview.

Leave a Reply