Saat Brand Masuk Kedalam AI Recommendation (Source: ChatGPT)
Banyak brand mulai melakukan eksperimen sederhana, ketika mereka mengetik nama brand atau kategori produk di ChatGPT, Perplexity atau AI Overview (Google SGE).
Ketika AI menyebut brand mereka dalam jawaban, reaksi yang muncul biasanya cukup sederhana:
“Berarti brand kami sudah muncul di AI.”
Sekilas terlihat seperti kemenangan, namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan:
Apakah AI benar-benar merekomendasikan brand tersebut?
Dalam banyak kasus jawabannya adalah tidak. Karena AI bisa menyebut puluhan brand sebagai referensi informasi, namun hanya beberapa brand yang benar-benar direkomendasikan.
Perbedaan ini terlihat kecil, namun dalam praktiknya inilah yang menentukan apakah sebuah brand dipertimbangkan oleh konsumen atau tidak.
Dua Level Visibilitas Brand di Era AI
Dalam ekosistem pencarian berbasis AI, visibilitas brand tidak lagi satu dimensi. Setidaknya ada dua level kehadiran brand dalam jawaban AI, yaitu:
- AI Citation
- AI Recommendation
Penjelasannya sederhana, AI Citation terjadi ketika AI menyebut brand anda sebagai referensi informasi.
“Galaxy S24 Ultra dilengkapi kamera utama 200MP yang didukung teknologi AI untuk meningkatkan detail foto dalam berbagai kondisi pencahayaan.” Dengan source merujuk artikel tertentu yang di citation oleh AI dari website Samsung Newsroom.
Disini Samsung tidak hanya disebut, tapi artikelnya dijadikan sumber referensi informasi. Namun apakah dalam jawaban AI Samsung sudah masuk opsi yang direkomendasikan.
Sementara itu, AI Recommendation terjadi ketika AI menyarankan brand sebagai pilihan. Contohnya ketika pengguna atau calon konsumen yang sudah memiliki niat pembelian mengetik prompt “Smarphone Terbaik Untuk Fotografi”.
AI biasanya menjawab dengan daftar pilihan disertakan kelebihan produk tersebut. Inilah yang disebut AI Recommendation. Dalam konteks ini, brand tidak lagi sekedar disebut tetapi sudah direkomendasikan oleh AI sesuai kebutuhan pengguna.
Perubahan Strategi Marketing di Era AI
Perbedaan citation dan recommendation menciptakan fenomena baru dalam marketing. Dimana shortlist yang ditampilkan merubah landscape strategi marketing di era AI.
Dimana dalam model klasik:
Awareness → Consideration → Decision
Namun di era AI Search menjadi:
AI filtering → Awareness → Decision
Brand yang tidak masuk AI Recommendation memiliki kemungkinan lebih besar menjadi yang tidak pernah dipertimbangkan.
Karena brand masuk jawaban di AI, kelemahannya ialah traffic bisa turun dan mungkin bahkan kehilangan klik. Tetapi jika masuk kedalam rekomendasi AI, mereka tetap mempengaruhi keputusan.
Ini menjelaskan fenomena baru: visibility ≠ traffic
Mengapa Banyak Brand Terjebak di Citation
Brand bisa muncul berkali-kali dalam jawaban AI, tetapi tidak pernah masuk dalam daftar rekomendasi. Jika disederhanakan, Citation menciptakan awareness sedangkan recommendation menciptakan consideration. Masalahnya, banyak brand berhenti pada tahap pertama yakni Citation.
Brand merasa yakin dan merasa masuk pola pencarian konsumen saat disebut sebagai bagian informasi oleh AI. Namun ada fakta tersembunyi yang mulai mengambil peran dalam pola keputusan konsumen dalam memutuskan tertuju terhadap salah satu produk, yakni pilihan yang diberikan oleh AI Recommendation.
Studi Praktik: Eksperimen AI Search pada Samsung Newsroom
Beberapa waktu terakhir saya mulai menguji konsep ini secara langsung dalam proyek yang saya kerjakan. Salah satu klien yang saya tangani adalah Samsung Electronics Indonesia, khususnya pada platform Samsung Newsroom.
Peran saya dalam proyek ini adalah melakukan audit artikel, memonitor performa website, serta mulai menguji bagaimana konten mereka muncul dalam ekosistem AI search.
Salah satu pertanyaan yang saya ajukan kepada tim sangat sederhana:
Apakah artikel Samsung Newsroom hanya disebut oleh AI, atau benar-benar direkomendasikan?
Untuk menjawabnya, kami mulai melakukan pengujian pada beberapa AI engine seperti ChatGPT, Perplexity, dan AI Overview (Google SGE).
Kami mencoba berbagai jenis prompt yang sering digunakan pengguna.
Misalnya:
- smartphone terbaik untuk fotografi
- tablet terbaik untuk belajar anak
- earbuds terbaik untuk kualitas audio
Kemudian kami mengamati bagaimana AI menyusun jawabannya.
Temuan yang Menarik
Dalam banyak kasus, artikel dari Samsung Newsroom memang muncul dalam jawaban AI. Contohnya ketika AI menjelaskan fitur perangkat, jawaban AI sering berbentuk seperti ini:
Galaxy S26 Ultra memiliki kamera 200MP dengan teknologi AI imaging.
Dalam konteks ini, artikel Samsung Newsroom berfungsi sebagai sumber fakta, namun ketika pertanyaan berubah menjadi rekomendasi, pola jawabannya berbeda.
Misalnya ketika pengguna bertanya:
smartphone terbaik untuk fotografi
AI biasanya memberikan beberapa pilihan utama. Dalam beberapa kasus, Samsung muncul dalam daftar tersebut. Namun pada kasus lain, Samsung hanya muncul sebagai referensi informasi.
Pelajaran dari Eksperimen Ini
Eksperimen ini menunjukkan satu hal penting. AI tidak hanya membaca apa yang ditulis oleh brand, tetapi juga bagaimana brand dipahami dalam ekosistem informasi yang lebih luas.
AI mempertimbangkan berbagai sinyal seperti:
- Konteks penggunaan produk
- review media
- artikel perbandingan
- pengalaman pengguna
Karena itu strategi konten mulai bergeser. Tujuannya bukan hanya agar brand disebut oleh AI, tetapi agar brand masuk dalam daftar rekomendasi AI.
Menuju Pertanyaan yang Lebih Penting
Jika AI kini berperan sebagai penyaring pilihan sebelum pengguna benar-benar mencari produk, maka muncul pertanyaan yang lebih penting.
Bagaimana sebuah brand bisa masuk ke dalam AI Recommendation tersebut?
Pada edisi berikutnya, saya akan membahas strategi yang mulai muncul dalam dunia pemasaran digital:
Winning the AI Recommendation.
Bagaimana brand membangun sinyal yang membuat AI tidak hanya menyebut mereka, tetapi benar-benar merekomendasikannya.
Bagi brand, content strategist, maupun profesional digital yang ingin memahami bagaimana konten dapat lebih mudah dikenali oleh generative engine, Saya secara rutin menulis tentang strategi ini di newsletter Future Writing.
Jika Anda tertarik mendalami strategi AI-ready content, AI citation, dan generative engine visibility, Anda dapat mengunjungi LinkedIn saya: hellochandra.com. Serta ikutin saya juga di paltform sosial media Instagram Hellochandra.ai dan pratform sosial media Tiktok Hellochandra.ai
Lalu bagi Anda yang ingin mempelajari topik ini secara lebih praktis, Saya juga menyediakan beberapa produk digital seperti eBook, playbook, dan prompt kit yang bisa diakses melalui halaman berikut: lynk.id/chandshh.

Leave a Reply