HELLOCHANDRA – Brand Indonesia masih mengalokasikan budget besar untuk menyebar press release ke puluhan bahkan ratusan portal berita. Logikanya masuk akal yaitu makin banyak portal yang memuat, makin besar kemungkinan brand terlihat. Tapi ada satu masalah fatal yang sering diabaikan, ketika konsumen bertanya ke ChatGPT, Perplexity, atau Google AI Overview, brand yang sudah “ramai di portal” itu nyaris tidak pernah muncul sebagai sumber.
Press release yang disebar ke ratusan portal sekaligus lewat layanan distribusi otomatis (disebut sindikasi) nyaris tidak pernah dikutip AI search. Yang dikutip adalah konten editorial orisinal yang otoritatif dan owned newsroom milik brand sendiri.
Studi BuzzStream yang menganalisis lebih dari 4 juta sitasi AI memperkuat hal ini dengan angka konkret. Dari keseluruhan sitasi, press release yang disebar lewat sindikasi seperti ini hanya menyumbang 0,04%.
Sementara di dalam kategori sitasi berita, konten editorial orisinal menguasai 81% dan press release sindikasi hanya 0,32%. Apa pun cara mengukurnya, kesimpulannya sama yaitu AI search nyaris tidak pernah mengutip press release yang disebar massal.
Mengapa AI Search Mengabaikan Press Release Sindikasi
Untuk memahami mengapa strategi press release lama tidak menghasilkan sitasi di AI, kita perlu melihat cara platform AI memilih sumbernya.
Studi BuzzStream melacak sitasi di ChatGPT, Google AI Mode, Google AI Overview, dan Google Gemini menggunakan 3.600 prompt di 10 industri selama Januari 2026. Hasilnya konsisten di semua platform yaitu press release yang didistribusikan melalui channel sindikasi seperti Yahoo News, MSN dan jaringan portal agregator hampir tidak pernah muncul sebagai sumber yang dikutip AI.
Sederhananya, sindikasi adalah ketika satu rilis yang sama persis diterbitkan ulang di ratusan portal sekaligus secara otomatis dengan teks identik, tersebar di mana-mana.
Perlu dicatat secara jujur bahwa BuzzStream adalah perusahaan yang menjual tools digital PR, sehingga temuan ini sejalan dengan posisi komersial mereka. Namun skala datanya lebih dari 4 juta sitasi, membuat arah temuannya tetap kredibel dan konsisten dengan apa yang diamati peneliti independen lain.
Alasan di balik pola ini bukan kebetulan. Platform AI dilatih pada corpus internet yang sangat memprioritaskan sinyal editorial otoritatif, seperti ada reporter bernama, ada proses editorial independen dan ada reputasi outlet. Ketika satu teks identik muncul di ratusan domain dalam waktu bersamaan, sinyal yang diterima AI adalah konten promosi dalam skala masif bukan otoritas.
AI mengidentifikasi pola duplikasi ini dan memilih untuk tidak menggunakannya sebagai sumber jawaban. Yang bermasalah bukan press release-nya sendiri, melainkan model distribusi sindikasinya.
Apa yang Sebenarnya Dikutip AI
Kalau press release sindikasi hanya menghasilkan 0,04%, dari mana sebagian besar sitasi AI yang lain berasal?
Studi yang sama menemukan bahwa 81% sitasi dalam kategori berita berasal dari konten editorial orisinal seperti liputan jurnalistik independen yang diproduksi oleh reporter dan outlet dengan kredibilitas editorial.
Ini berbeda dari sindikasi yang satu teks disebar ke mana-mana, editorial adalah artikel yang ditulis sendiri oleh jurnalis tentang sebuah brand. Bentuknya bisa investigasi, wawancara narasumber, analisis mendalam atau artikel feature dari outlet seperti Reuters dan CNBC hingga media vertikal yang otoritatif di bidangnya.
Ada temuan pembeda yang penting di sini. Press release atau konten yang di-host langsung di domain perusahaan sendiri atau disebut owned newsroom, bukan disindikasikan ke portal lain. Hal ini menghasilkan pola yang sangat berbeda dari distribusi sindikasi. Di ChatGPT, konten dari owned newsroom perusahaan menyumbang sekitar 18% sitasi. Di Google AI, angkanya sekitar 3%. Keduanya jauh lebih tinggi dari press release sindikasi.
Sinyalnya jelas: ketika konten ada di domain otoritatif milik brand sendiri dan diperlakukan sebagai publikasi resmi, bukan siaran pers massal, AI membacanya secara berbeda.
Artinya ada dua jalur yang benar-benar bekerja: editorial coverage dari outlet independen yang meliput brand dan owned newsroom dengan konten yang diperlakukan sebagai aset editorial bukan sekadar materi distribusi.
Apa Artinya untuk Brand Indonesia
Pergeseran ini punya implikasi langsung pada cara brand Indonesia mengalokasikan budget dan mengukur keberhasilan PR. Di sinilah strategi press release AI yang benar harus dimulai.
Metrik lama: berapa banyak portal yang memuat dan berapa total reach distribusi menjadi tidak lagi relevan untuk visibilitas di AI search. Yang relevan sekarang adalah: apakah ada outlet yang menulis liputan editorial tentang brand? Apakah konten di website brand sendiri diperlakukan sebagai sumber yang otoritatif, bukan sekadar brosur digital?
Dari pengalaman bekerja dengan brand enterprise di Indonesia, pola yang konsisten terlihat: brand yang muncul sebagai sumber di AI search adalah brand yang punya dua hal sekaligus yakni track record liputan editorial dari media kredibel dan konten mendalam di website atau newsroom mereka sendiri yang menjawab pertanyaan spesifik konsumen, bukan hanya mengumumkan produk.
Ada peluang besar yang belum dimanfaatkan brand lokal yaitu hampir semua sumber yang dikutip platform AI saat ini masih didominasi konten berbahasa Inggris. Ruang untuk konten Bahasa Indonesia yang berkualitas editorial, terstruktur dan menjawab pertanyaan nyata konsumen Indonesia masih sangat terbuka.
Brand yang bergerak lebih awal akan mengisi celah itu sebelum kompetisi menyadarinya. Di era AI search, pertanyaan yang harus dijawab brand bukan lagi “berapa portal yang memuat kita?” tapi “apakah AI mempercayai kita sebagai sumber?”
Artikel Terkait:
- Apa Itu GEO: Panduan Generative Engine Optimization untuk Brand Indonesia
- Perbedaan SEO, AEO, dan GEO: Mana yang Harus Diprioritaskan Brand Indonesia?
- Cara Cek Brand di AI Search: Panduan Memastikan AI Menyebut Anda dengan Benar
Tentang Penulis:
Chandra Purnama adalah AI Search Strategist dan Co-Founder Medialab Strategi Nusantara. Ia memimpin transformasi SEO ke GEO untuk Samsung Electronics Indonesia dan menjadi Media & Communications Advisor di DPR RI. Fokusnya: membantu brand Indonesia mendapatkan visibilitas dan sitasi di platform AI seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview.

Leave a Reply