HELLOCHANDRA – Banyak brand belum pernah mengecek apa yang sebenarnya dikatakan ChatGPT atau Perplexity tentang mereka, padahal calon konsumen sudah bertanya ke AI sebelum memutuskan membeli. Masalahnya, AI search engine masih sering keliru menyebut brand: salah mengutip, salah atribusi, bahkan mengarang fakta. Solusinya dimulai dari langkah sederhana yang sering dilewatkan yaitu secara rutin cek brand di AI Search untuk mengetahui versi cerita mana tentang brand Anda yang sedang beredar, lalu perbaiki sumbernya sebelum persepsi keliru terlanjur terbentuk.
Cara cek brand di AI Search adalah proses menanyakan langsung ke platform seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview tentang brand Anda, lalu memeriksa apakah jawaban yang diberikan akurat, sumbernya benar, dan tautannya valid.
Langkah ini penting karena tingkat kesalahan AI masih tinggi. Menurut studi Tow Center for Digital Journalism di Columbia University pada Maret 2025 yang menguji delapan AI search engine dengan 1.600 query dan menemukan bahwa secara keseluruhan, AI gagal memberikan informasi yang benar pada lebih dari 60% kasus. Perplexity yang memposisikan dirinya sebagai alat riset punya tingkat kesalahan terendah, namun masih salah pada 37% query.
Sementara Grok-3 punya tingkat kesalahan tertinggi mencapai 94%. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, AI sering salah dengan percaya diri. Hal itu diketahu dari 134 sitasi keliru yang diberikan ChatGPT, dimana dalam studi tersebut hanya 15 sitasi yang menggunakan bahasa ragu-ragu dan selebihnya sitasi salah dengan jawaban percaya diri.
Bagaimana Cara Cek Brand di AI Search Secara Praktis?
Mulailah dengan mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang akan ditanyakan calon konsumen Anda. Buka ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview satu per satu, lalu ajukan pertanyaan seperti: “Apa itu [nama brand]?”, “Apakah [brand] bagus?”, “Produk apa saja dari [brand]?”, dan “Siapa kompetitor [brand]?”. Catat setiap jawaban, terutama klaim soal harga, spesifikasi, lokasi, dan keunggulan.
Yang perlu diperiksa bukan hanya benar-salahnya jawaban, tetapi juga sumber yang dirujuk AI. Periksa apakah tautan yang diberikan valid atau mengarah ke halaman error, apakah sumbernya milik Anda atau pihak ketiga dan apakah informasinya sudah usang. Lakukan pengecekan ini secara berkala minimal seminggu sekali, karena jawaban AI berubah seiring konten baru muncul di web. Pengecekan satu kali hanya akan memberi potret sesaat, bukan gambaran yang stabil.
Apa yang Harus Dilakukan Jika AI Menyebut Brand Anda Salah?
Hal pertama yang perlu dipahami: Anda tidak bisa mengedit jawaban AI secara langsung. Yang bisa Anda kontrol adalah “bahan baku” yang dipakai AI untuk menyusun jawaban yaitu konten tentang brand Anda yang tersebar di web. Ketika AI salah, akar masalahnya hampir selalu karena informasi yang benar tidak cukup tersedia, tidak konsisten antar sumber atau kalah otoritas dibanding sumber yang keliru.
Studi Tow Center menemukan pola yang penting dipahami brand: kesepakatan lisensi konten dengan AI company sekalipun tidak menjamin sitasi yang akurat dan beberapa chatbot justru memfabrikasi tautan ke halaman yang tidak ada. Artinya, perbaikan tidak datang dari “melapor ke platform”, melainkan dari memperkuat jejak konten Anda sendiri dengan memastikan informasi resmi (profil, produk, klaim) tersedia jelas di situs Anda, konsisten di seluruh kanal dan didukung sumber kredibel pihak ketiga sehingga AI menemukan konfirmasi silang yang sama di mana-mana.
Bagaimana Mengukur Hasil Cek Brand di AI Search Secara Berkelanjutan?
Mengecek sekali lalu berhenti tidak cukup, yang dibutuhkan brand adalah cara mengukur apakah konsistensi sitasinya membaik atau memburuk dari waktu ke waktu. Di sinilah pendekatan berbasis pengukuran seperti Citation Stability Score (CSS) menjadi relevan: alih-alih sekadar mengecek “apakah disebut”, brand bisa melacak seberapa stabil dan konsisten ia dikutip dengan benar di berbagai platform AI.
Citation Stability Score (CSS) adalah metode yang dikembangkan Chandra Purnama untuk mengukur seberapa konsisten sebuah brand dikutip oleh AI search engine seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview. Untuk meningkatkan skor ini, CSS didampingi kerangka optimasi 4-layer yang disebut AI SEO Framework.
Pendekatan tersebut sudah diterapkan Chandra dalam transformasi SEO ke GEO untuk salah satu kliennya yaitu Samsung Electronics Indonesia (SEIN). Logikanya menyambung langsung dengan hasil pengecekan: setiap kali Anda cek brand di AI Search dan menemukan inkonsistensi, CSS-nya akan rendah dan kerangka AI SEO menjadi peta perbaikan yang konkret untuk meningkatkannya. Pengecekan rutin memberi datanya; CSS mengubah data itu menjadi skor yang bisa dipantau dan AI SEO menjadi cara memperbaikinya.
FAQ Bagaimana cara cek brand di AI Search?
Bagaimana cara cek brand di AI Search?
Ajukan pertanyaan tentang brand Anda langsung ke ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview seperti “Apa itu [brand]?” atau “Apakah [brand] bagus?” lalu periksa akurasi jawaban, sumber yang dirujuk, dan validitas tautannya.
Seberapa sering AI search melakukan kesalahan tentang brand?
Studi Tow Center Columbia University (Maret 2025) menemukan tingkat kesalahan lebih dari 60% pada 1.600 query di delapan AI search engine, dengan Perplexity terendah (37%) dan Grok-3 tertinggi (94%).
Apa yang harus dilakukan jika AI menyebut brand salah?
Anda tidak bisa mengedit jawaban AI secara langsung, tetapi bisa memperbaiki sumbernya: perkuat informasi resmi di situs Anda, jaga konsistensi antar kanal, dan dukung dengan sumber kredibel pihak ketiga.
Apa hubungan masalah ini dengan Citation Stability Score?
Citation Stability Score (CSS) adalah metode untuk mengukur seberapa konsisten brand dikutip AI dari waktu ke waktu. Untuk memperbaiki skor ini, digunakan kerangka optimasi AI SEO (4-layer). Semakin tinggi CSS, semakin kecil kemungkinan AI salah menyebut brand.
Artikel Terkait:
- Citation Stability Score: 4 Layer Strategis
- Apa itu GEO: Panduan Lengkap untuk Brand Indonesia
- Kenapa Brand Anda Disebut AI Hari Ini, Tapi Hilang Besok?
Tentang Penulis:
Chandra Purnama adalah AI Search Strategist dan Co-Founder Medialab Strategi Nusantara. Ia memimpin transformasi SEO ke GEO untuk Samsung Electronics Indonesia dan menjadi Media & Communications Advisor di DPR RI. Ia juga mengembangkan Citation Stability Score (CSS), framework untuk mengukur konsistensi sitasi brand di platform AI. Fokusnya: membantu brand Indonesia mendapatkan visibilitas dan sitasi di platform AI seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overview.

Leave a Reply